Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page



Medan || kompas7.id || Menyikapi keluhan masyarakat terkait banjir yang kerap terjadi, Wali Kota Medan Bobby Nasution pun harus berpikir keras mengatasinya. Apalagi Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II hingga kini tak kunjung menormalisasi sungai yang menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir lantaran mengalami pendangkalan dan penyempitan. Menantu Presiden Joko Widodo ini tidak mau wilayah dan warganya menjadi langganan banjir. Sebagai langkah antisipasi meminimalisir terjadinya banjir, sumber daya dan fungsi yang dimiliki pun dioptimalkan.


Seperti menindaklanjuti keluhan warga yang menjadi korban banjir akibat Sungai Selayang mengalami pendangkalan dan penyempitan, orang nomor satu di Pemko Medan ini langsung turun memimpin gotong royong bersama yang melibatkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) beserta Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum  (P3SU) dari jajaran 6 kecamatan yakni Medan Selayang, Medan Sunggal, Medan Tuntungan, Medan Johor, Medan Maimun dan Polonia.  

Pembersihan dilakukan mulai sejak pagi hingga petang itu dimulai dari aliran Sungai Selayang yang melintasi Jalan Sei Belutu hingga Jalan Dr Mansyur. Selain mengangkat lumpur dan sampah dari dasar sungai, semak belukar yang berada di sisi kiri dan kanan sungai juga menjadi sasaran pembersihan guna mendukung kelancaran air mengalir. Di samping itu sejumlah alat berat milik Dinas PU juga diturunkan untuk mendukung pembersihan sungai yang dilakukan.

Selain Sungai Selayang, Bobby Nasution juga mengoptimalkan petugas Dinas PU dengan P3SU Kecamatan Medan Marelan untuk membersihkan parit AMD di Jalan Speksi, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Rabu (9/3) lalu. Langkah ini dilakukan untuk meminimalisir terjadinya banjir maupun genangan air di sejumlah titik di kawasan Medan Marelan. Seperti yang diketahui, drainase maupun parit yang ada di kawasan itu terkoneksi dengan parit AMD untuk diteruskan ke Sungai Bedera. 

Ternyata parit AMD mengalami pendangkalan cukup parah, terutama di bagian hilir yang bertemu langsung dengan Sungai Bedera. Oleh karenanya Bobby Nasution minta parit AMD segera dibersihkan dan didalamkan lagi sehingga mampu menampung debit air hujan untuk selanjutnya dialirkan ke Sungai Bedera. Guna mencegah terjadinya back water setelah parit AMD dibersihkan, suami Ketua TP PKK Kota Medan Kahiyang Ayu ini berharap agar BWS Sumatera II menormalisasi Sungai Bedera yang mengalami pendangkalan karena sudah lama tidak dinormalisasi.

Kemudian menyusul pembersihan drainase dan parit Medan Urban Development Project (MUDP) di Kecamatan Medan Denai, tepatnya seputaran Kelurahan Binjai karena sejumlah wilayahnya rentan langganan banjir setiap hujan deras turun. Selain Dinas PU, pembersihan juga melibatkan P3SU dari 4 kecamatan yakni Medan Denai, Medan Area, Medan Kota serta Medan Amplas. 

Bahkan, Bobby Nasution harus masuk dalam gorong-gorong parit MUDP untuk mengidentifikasi apa yang menjadi pemicu terjadinya banjir. Hasilnya sejumlah titik dalam gorong-gorong mengalami pendangkalan yang cukup parah dan Bobby pun minta segera diatasi. "Sedimentasi itu harus segera diatasi, kasihan warga yang selalu menjadi langganan banjir," kata Bobby Nasution saat peninjauan tersebut.

Keseriusan Bobby Nasution dalam mengatasi banjir pun diikuti Dinas PU Kota Medan. Sekretaris Dinas PU Mardian Habibi Gultom menjelaskan, mereka saat ini sedang mencari permasalahan dan mengidentifikasi seluruh drainase yang ada. Dikatakannya, drainase yang ada saat ini umumnya harus dinormalisasi karena mengalami pendangkalan.

"Dalam melakukan indentifikasi, kita bekerja sama dengan akademisi. Di samping itu semua Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang kita miliki sedang bergerak untuk mencari tahu di mana titik-titik banjir yang menyebabkan penyumbatan drainase. Seperti yang dilakukan di parit MUDP di Medan Denai yang menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir. Kemudian kita juga telah melakukan pengorekan drainase di kawasan Medan Belawan, lalu perbaikan subdrain di Jalan Balai Kota. Ini semua kita lakukan untuk meminimalisir terjadinya banjir," jelas Habibi.
 
Selain itu, jelas Habibi, Kadis PU Kota Medan Topan OP Ginting juga sudah membuat surat edaran kepada seluruh Kepala Bidang (Kabid), terutama jalan, drainase dan jaskon untuk siap siaga dan mendirikan posko banjir di setiap UPT. "Apabila terjadi hujan lebat, semua kabid, sub koordinator dan Kepala UPT harus turun kelapangan untuk mengidentifikasi pemicu terjadinya banjir untuk selanjutnya dilakukan tindakan mengatasinya," paparnya.

Di kesempatan itu, Habibi selanjutnya mengungkapkan volume sedimentasi yang telah dinormalisasi dan diangkut Dinas PU dari 21 kecamatan hingga Februari 2022, yakni Kecamatan Medan Belawan 0,25 M3, Medan Deli 1.648,3 M3, Medan Labuhan 243,75 M3, Medan Marelan 509,45 M3, Medan Amplas 470,97 M3, Medan Area 378,61 M3, Medan Denai 401,4 M3, Medan Kota 13,2 M3 serta Medan Perjuangan 6,72 M3.

Kemudian, bilang Habibi, menyusul Medan Tembung 3,96 M3, Medan Timur 1,95 M3, Medan Baru 196,5 M3, Medan Barat 403,64 M3, Medan Helvetia 398,48 M3, Medan Petisah 440,5 M3, Medan Johor 156,58 M3, Medan Maimun 291,5 M3, Medan Polonia 5.704,2 M3, Medan Selayang 369,5 M3, Medan Sunggal 326,4 M3 serta Medan Tuntungan 585,4 M3.

Langkah Bobby Nasution dengan mengoptimalkan sumber daya dan potensi yang dimiliki guna mengatasi banjir diapresiasi dosen Administrasi Publik Fisipol Universitas Medan Area (UMA) Drs Bahrum Jamil MAP. Dikatakan Bahrum, langkah Bobby Nasution sangat tepat sekaligus memberikan contoh yang sangat baik kepada jajarannya.

"Kalau kata orang tua zaman dulu, jika ingin memandikan kuda, kita mandi duluan. Tidak mungkin kudanya kita suruh mandi sendiri. Artinya Pak Wali Kota ini memberikan contoh, menjadi panutan serta memberikan tamparan bagi jajarannya yang berada di kecamatan, khususnya para camat. Karena Pak Wali Kota yang turun langsung memimpin gotong royong di Sungai Selayang dan pengorekan Parit AMD di Marelan untuk mencari langsung akar permasalahan dari banjir yang terjadi selama ini," ungkap Bahrum.

Kemudian Bahrum menilai, turunnya Wali Kota langsung ke lapangan merupakan tindakan yang tidak dipikirkan oleh para camat selama ini. Seharusnya, bilangnya, camat lah yang memimpin gotong royong tersebut dan hasilnya dilaporkan kepada Wali Kota. Selanjutnya, Wali Kota tinggal mencari solusi untuk mengatasinya agar banjir tidak terjadi lagi. 

"Setingkat Wali Kota itu seharusnya tidak turun ke lapangan untuk gotong royong. Camat dan aparatur kelurahan lah yang harusnya gotong royong sekaligus melakukan identifikasi untuk mengetahui apa yang menjadi akar masalah penyebab banjir. Hasilnya kemudian dilaporkan dan Pak Wali Kota minta OPD terkait untuk mengatasinya," ujarnya.

Bahrum sangat mendukung gerak cepat yang dilakukan Bobby Nasution dengan mengoptimalkan sumber daya dan fungsi yang dimiliki, terutama Dinas PU dan P3SU yang ada di seluruh kecamatan. Dikatakan Bahrum, Dinas PU dan P3SU memang harus dioptimalkan dengan melakukan pengawasan serta pengontrolan drainase secara rutin. Oleh karenanya Bahrum sangat setuju dengan tindakan tegas dilakukan Bobby Nasution dengan menonaktifkan pejabat Dinas PU karena dinilai tidak tanggap mengatasi banjir, sebab itu dapat menjadi shock therapy bagi pejabat lainnya.

"Saya tentunya berharap agar kebijakan ini konsisten dilakukan. Selama ini kita lemah dalam hal pengontrolan. Pak Bobby sudah menunjukkan dirinya turun langsung ke lapangan begitu menerima keluhan masyarakat untuk mencari akar permasalahan. Bahkan, pak Bobby turun langsung hujan-hujanan dan masuk gorong-gorong untuk menemukan penyebab terjadinya banjir. Kita berharap Kota Medan jauh lebih baik di bawah kepemimpinan Pak Bobby," pungkasnya.(k7 nell)
Leave A Reply