deskripsi gambar

Ironi! Dana Sumbangan Kematian Orang Tua Wartawan Pemko Medan Diduga Digelapkan!?





Medan  ||   kompas7.id   ||  

Ironi sekali! apa yang dialami oleh wartawan media online unit Pemko Medan, dimana enam bulan yang lalu orang tuanya meninggal dunia, dan seperti biasa, pengurus wartawan Pemko Medan mengumumkan di wa group apabila ada yang ingin berpartisipasi menyumbang terkait orangtua anggota lain ada yang meninggal dunia. 

Marajohan Tampubolon, wartawan yang selalu tampil dengan apa adanya yang aktif apabila ada kegiatan pengurus, berharap ketua koordinator wartawan Pemko Medan Syaippul Devissa dapat menyisihkan sedikit rezekinya untuk menyumbang atas kepergian orang tuanya, yakni Ibunda tercinta. Namun sepertinya harapan itu kandas, jangankan bantuan dari ketua koordinator wartawan Pemko Medan, les sumbangan dari anggota lainnya yang telah terkumpul pun tak kunjung serah terima. 

"Saya memang dulu berharap, ketua koordinator wartawan Pemko Medan peduli atas apa yang menimpa saya, namun harapan itu sepertinya buntung, jauh panggang dari api, jangankan berpartisipasi langsung kepada saya, namun untuk menyumbang apa yang ada di les pun ketua, sepertinya tidak ada, begitu juga dana yang terkumpul, sampai saat ini belum juga saya terima, terhitung sejak akhir Desember 2022 lalu," ujarnya. 

Namun kemaren di bulan Januari, lanjutnya, ada pengurus menghubunginya, menanyakan dimana posisi untuk memberikan sumbangan tersebut. Mendengar hal itu, Marajohan pun menolaknya secara halus, karena merasa dana sumbangan tersebut sudah terlalu lama, lebih dari enam bulan, terhitung dari tanggal 04 Juni 2022. Marajohan dan pihak keluarga pun sepertinya sudah mengiklaskannya. 

"Yang terpentingkan doa dari semuanya, termasuk doa dari kawan-kawan unit Pemko Medan, bahwa Mama saya sudah tenang di Surga," tukasnya. 

Imbas diduga adanya penolakan pemberian sumbangan kematian orangtuanya, pengurus yang hendak menyerahkan sumbangan itu sepertinya tersinggung dan melaporkan hal tersebut kepada ketua koordinator wartawan unit Pemko Medan, Syaippul Devissa. 

Kemudian selang beberapa waktu, Marajohan Tampubolon melihat chat wa group, terlihat olehnya bahwasannya namanya sudah dikeluarkan oleh salah seorang pengurus/admin dengan berbunyi izin dikeluarkan karena perintah ketua. 

"Walau pun imbas penolakan dana sumbangan kematian orang tua saya yang sudah terlalu lama sehingga keputusan keluarga diiklaskan, dan kemudian saya dikeluarkan dari group wa, saya redha dan tetap menerimanya, karena penolakan dana sumbangan itu atas kesepakatan keluarga untuk tidak menerimanya lagi," imbuhnya. 

Sementara terpisah awak media ini mengkonfirmasi ketua koordinator wartawan unit Pemko Medan, Syaippul Devissa melalui sambungan seluler. Namun sepertinya, Syaippul Devissa telah memblokir panggilan masuk dan whatsapp awak media ini hingga nomor seluler yang keempat.

Begitu juga hingga panggilan nomor seluler yang kelima, dikonfirmasi melalui panggilan whatsapp, kemudian diangkat dengan mengatakan "hello.." Lalu dijawab oleh awak media ini, "hello, izin konfirmasi," 

Namun setelah mengenali suaranya, ketua koordinator wartawan unit Pemko Medan, Syaippul Devissa langsung mematikan sambungan seluler dan serta merta memblokir kembali untuk yang kelima kalinya nomor seluler awak media ini. 


(k7  red) 

Share on Google Plus

About JurnalisTeamSergapIndonesia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 التعليقات:

Posting Komentar